logo_indonesia

  •   ASI sebagai penyelemat yang sudah terbukti
      Delicious  Digg  Reddit    Stumbleupon  Twitter


    25 January 2010 — Bidan Budi adalah salah satu yang pertama kali menerima tamu di Dinas Kesehatan Klaten, Jawa Tengah. Senyumnya memperlihatkan antusiasme atas semua hal yang telah disiapkannya untuk diperlihatkan. Sebagai penyokong promosi ASI di lingkungan sekitarnya, Bidan Budi dikenal dan dihormati oleh semua orang — dari ibu-ibu yang telah ia bantu melahirkan hingga Kepala Dinas Kesehatan.

    Bidan Budi tidak hanya bangga atas kerjanya di dinas kesehatan. Ia  pun pernah membantu untuk mencarikan dana dan mendirikan sebuah pusat konseling ASI di Posyandu sekitar rumahnya, dilengkapi dengan model payudara dan boneka anak-anak, poster dan brosur, video dan televisi. Ia juga menciptakan sistem pengawasan untuk memantau status pemberian makanan untuk bayi di bawah enam bulan melalui pertemuan bulanan untuk ibu menyusui.

    Salah satu dari ibu-ibu tersebut bernama Esti, seorang ibu yang terpaksa kembali bekerja dua bulan setelah melahirkan namun terus menyusui secara eksklusif bayinya yang kini berumur empat bulan. Esti memompa ASI setiap hari di tempat kerjanya. Ia simpan di antara es batu untuk diambil oleh suaminya yang selalu datang setiap hari pada saat makan siang dan memberikannya kepada anak mereka di rumah.

    Pesan ASI ekslusif telah mengubah pandangan rekan-rekan Budi. Salah satu dari mereka menolak tawaran dari sebuah produsen susu formula untuk mengikuti lawatan liburan gratis ke Thailand jika ia bersedia memasarkan susu formula ke ibu-ibu yang baru melahirkan. Bidan Budi juga melobi beberapa rumah sakit untuk memutus ikatan dengan produsen susu formula. Salah satu caranya adalah bersama-sama dengan manajemen senior dari rumah sakit Islam terbesar di kabupaten dan melakukan advokasi kepada rumah sakit-rumah sakit islam yang lebih kecil untuk memutuskan kontrak dengan produsen-produsen tersebut. Dalam advokasinya, Ia menggunakan ayat-ayat suci Al-Quran terutama yang menghimbau ibu-ibu untuk menyusui bayinya hingga dua tahun.

    Siapapun pendengarnya, pesan Ibu Budi sangat jelas: ASI adalah terbaik. Itikad Bidan Budi untuk mempromosikan ASI mulai terbentuk dari suatu kondisi yang menantang, yaitu pada saat dua bulan setelah gempa besar memporakporandakan kota Yogyakarta  di tahun 2006. Saat itu dia mengikuti program pelatihan yang didukung UNICEF, yang dilanjutkan dengan kursus lanjutan satu tahun kemudian sebagai bagian dari program UNICEF kesiagaan darurat gempa.

    Satu lagi pemimpin yang mempunyai komitmen tinggi dari program pemberian makanan tambahan bayi dan anak di Klaten adalah Dr. Rony, yang saat ini menjabat sebagai kepala Dinas Kesehatan Klaten. Pada saat terjadi gempa tahun 2006, ia sebagai yang  bertanggung jawab untuk program kesehatan ibu hamil dan anak,  heran mengapa di saat gempa UNICEF dan lembaga lainnya terus fokus mengingatkan para ibu untuk tetap menyusui bayi-bayinya di masa-masa setelah gempa.

    Namun, beberapa minggu setelah gempa, saat Rony mengunjungi masyarakat yang terkena dampak bencana dan berbincang-bincang dengan para ibu, ia mengamati bayi-bayi yang mengalami masalah kurang gizi ternyata tidak diberikan ASI ekslusif. Ia pun sadar bahwa menyusui bukan hanya sesuatu kebiasaan yang secara kodrat dilakukan seorang ibu, namun merupakan praktek yang penting yang sangat mudah terlupakan di saat darurat. Karena menyaksikan sendiri kemungkinan hidup mati dapat dipengaruhi oleh pemberian ASI, ia terus mengubah sistem kesehatan dalam mempromosikan ASI melalui advokasi, penguatan kapasitas yang intensif, komunikasi yang inovatif dan penguatan sistem kesehatan.

    Pemegang kekuasan tertinggi di kebupaten tersebut, Bupati Klaten pun salah satu pendukung ASI. Pernah dilaporkan bahwa sebuah perusahaan susu formula datang mengeluh kepadanya mengenai menurunnya penjualan mereka di kabupaten tersebut dan memperingatkan bahwa penghasilan pajak dari mereka akan menurun pula jika sukses program Pemberian Makanan Bayi dan Balita terus berlanjut.

    “Tidak ada masalah,” kira-kira jawab Pak Bupati. “Yang penting adalah kesehatan anak-anak kita.” 

    Ketiga tokoh inilah, seperti banyak lainnya, benar-benar memperlihatkan arti sebuah “komitmen di setiap tingkatan”, suatu elemen penting dari kesuksesan Klaten dalam mempromosikan ASI ekslusif. Sukses tersebut dapat diukur, dimana antara tahun 2006 dan 2008, tingkat ASI ekslusif bagi bayi di bawah usia enam bulan meningkat dua kali lipat, menjadi lebih dari 43 persen.

    Sebuah survey independen tahun 2008 menemukan bahwa lebih dari setengah bayi di bawah satu tahun langsung diberi ASI satu jam setelah dilahirkan, yang menandakan bahwa ASI dan manfaatnya telah menjadi kebiasaan di kalangan masyarakat.
     


     

    Searchs :
    btn_contact
    btn_sitemap


  •  
  • Tentang UNICEF Indonesia    Sumber Informasi     Legal     Situs global UNICEF
    For every child
    Health, Education, Equality, Protection
    ADVANCE HUMANITY