logo_indonesia

  •   Fortifikasi Tepung
      Delicious  Digg  Reddit    Stumbleupon  Twitter


    Tiga besar investasi yang bisa dilakukan Indonesia dalam hal penanganan gizi

     

    Pada tanggal 25 Januari, Indonesia merayakan Hari Gizi Nasional. Berikut ini adalah satu dari dua cerita tentang cara-cara terbaik dalam memperbaiki status gizi anak-anak di Indonesia termasuk promosi ibu menyusui dan fortifikasi pangan dengan vitamin dan mineral. Laporan UNICEF  berjudul “Kemajuan Dunia dalam hal peningkatan Gizi bagi Anak-anak dan Ibu-ibu ” (Tracking Global Progress on Child and Maternal Nutrition) yang diluncurkan di Jakarta pada Hari Gizi Nasional menunjukkan Indonesia sebagai Negara peringkat lima di dunia dengan jumlah balita pendek akibat masalah kurang gizi yang berkelanjutan.

     

    Oleh Karen Emmons

     

    25 Januari 2010 — Di Asia makanan yang dibuat dengan tepung terigu menjadi semakin populer, maka tepung terigu menjadi wahana/sarana yang tepat untuk memenuhi kebutuhan gizi ibu dan anak.Lebih dari separuh total pasokan terigu yang dikonsumsi di Indonesia,Jepang, Republik Korea, Malaysia, Filipina, Taiwan (China) dan Thailand berupa mie dan roti. 

     

    Berdasarkan Asosiasi Gandum Amerika Serikat (U.S. Wheat Associates), Asia menjadi pasar dengan perkembangan yang paling pesat bagi terigu di dunia, khususnya di negara-negara dimana produk domestic bruto dan urbanisasinya meningkat.

     

    Sayangnya, kandungan gizi pada makanan-makanan tersebut tidak terlalu berarti. Sebagian besar zat gizi dari terigu hilang justru dihilangkan ketika terigu tersebut digiling menjadi tepung.

     

    “Makanan pokok, seperti nasi, mie dan roti mememberi kontribusi besar terhadap konsumsi dalam makanan sehari-hari, terutama bagi masyarakat miskin, tetapi makanan-makanan tersebut tidak mengandung protein, vitamin atau mineral yang cukup,” ujar Sonia Blaney, ahli gizi dari UNICEF Indonesia. 

     

    Namun, beberapa makanan pokok tidak harus menjadi ujung dari persoalan gizi, menurut Inisiatif Penguatan Tepung (Flour Fortification Initiative/FFI), suatu kerja sama sektor swasta yang eksklusif dan memiliki 60 anggota dari kalangan industri tepung terigu, organisasi kesehatan masyarakat, pemerintah, perguruan tinggi dan lembaga teknis, lembaga swadaya masyarakat (NGO) dan lembaga-lembaga internasional, termasuk UNICEF.

     

    Para anggota FFI bekerja bersama-sama mendorong pemerintah untuk membuat legislasi yang mengharuskan penambahan zat-zat gizi pada tepung terigu sebagai strategi yang penting dan efektif untuk memperbaiki gizi dan mendukung pembangunan sosial di dunia.

     

    Strategi ini memperoleh sambutan hangat dari lima peraih hadiah Nobel yang ditunjuk oleh Pusat Konsensus Kopenhagen (Copenhagen Consensus Center) pada tahun 2008 untuk menganalisa cara-cara yang optimal untuk memerangi persoalan terbesar dunia itu. Mereka menempatkan fortifikasi makanan pokok dengan zat besi dan garam beryodium sebagai investasi nomor tiga terbaik yang dapat dilakukan pemerintah dan para donator (suplementasi dengan vitamin and mineral meraih peringkat pertama). 

     

    Vitamin and mineral impact

     

    Fortifikasi merupakan cara untuk menggantikan zat-zat gizi yang hilang dari makanan pokok dan membuat makanan tersebut jauh lebih bergizi tanpa merubah rasa atau tampilannya.

     

    Kondisi kekurangan vitamin dan mineral mengganggu potensi perkembangan fisik dan mental dari satu pertiga penduduk dunia, sebagaimana dilaporkan oleh UNICEF dan Micronutrient Initiative. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) baru-baru ini mengeluarkan pedoman untuk fortifikasi tepung terigu dengan zat besi, asam folat, seng, vitamin B12 dan vitamin A. Zat Besi dan asam folat adalah dua zat gizi yang paling sering ditambahkan pada tepung terigu, dan zat-zat tersebut dapat ditambahkan ke dalam tepung hanya dengan biaya 10 sen dolar Amerika (100 rupiah) per orang per tahun.

     

    Fortifikasi terigu dengan zat besi dapat mencegah secara signifikan penghamabatan perkembangan kognitif yang sering terjadi pada anak-anak yang tidak mengkonsumsi zat besi yang cukup. Fortifikasi juga bermanfaat untuk meningkatkan produktivitas dan pendapatan orang dewasa, serta membantu menurunkan risiko penyakit anaemia guna mengurangi risiko kematian ibu hamil.

     

    Perempuan membutuhkan asam folat pada saat awal masa kehamilan untuk mengurangi risiko gangguan pada penutupan tulang belakang, misalnya spina bifida yang menyebabkan kematian anak dan kemungkinan besar cacat pada anak. Dalam hal ini fortifikasi dinyatakan lebih efektif dibanding suplementasi, karena biasanya suplemen asam folat hanya diberikan setelah perempuan sudah tahu bahwa mereka hamil, dimana umumnya terlambat.

     

    Menurut FFI, seorang perempuan remaja jika setiap harinya mengkonsumsi 150 gram tepung yang telah difortifikasi, yakni sekitar dua potong roti atau dua bungkus mie instan, dapat memperoleh sekitar 50 persen kebutuhan hariannya akan zat besi dan 84 persen kebutuhan asam folat tiap harinya.

     

    Beberapa analisa biaya-keuntungan yang tersedia relatif mendukung fortifikasi.  Para peneliti di Chili, contohnya, menemukan bahwa setiap $1 yang dikeluarkan untuk fortifikasi tepung dengan asam folat dapat menghemat $11,80 biaya berobat; di Afrika Selatan setiap $1 dapat menghemat $46 dan di AS nilai tersebut mencapai $40 (disebabkan oleh biaya perwatan medis yang lebih tinggi di dua negara tersebut).

     

    Negara-negara yang memiliki program fortifikasi

     

    Di seluruh dunia, ada 57 negara yang yang melalui undang-undang mengharuskan fortifikasi tepung dengan zat besi dan atau asam folat. Bahkan beberapa negara juga mengharuskan tambahan vitamin dan mineral lainnya, seperti vitamin A and B, seng dan thiamine. Undang-undang semacam itu telah berhasil meningkatkan konsumsi tepung terigu dan maizena yang difortifikasi bagi 2 milyar orang di dunia.

     

    Namun, hanya lima negara yang membuat hal tersebut wajib, seluruhnya berada di kawasan Asia–Pasifik. Indonesia ada di antara kelima negara tersebut, yang termasuk Australia, Fiji, Selandia Baru dan Filipina. Malaysia kemungkinan akan segera bergabung. Hingga saat ini, fortifikasi tepung merupakan praktek standar di kawasan Amerika dan di sekitar sepertiga total penggilingan di Afrika.

     

    Indonesia merupakan negara pertama di Asia Timur (1998) yang menyadari pentingnya penguatan tersebut. “Setahun setelah badai krisis ekonomi di Asia pada tahun 90-an, status gizi perempuan dan anak-anak menurun sangat drastis,” terang Nina Sardjunani, Deputi BAPPENAS bidang Sumber Daya Manusia dan Kebudayaan.

     

    Menurut Nina, pada tahun 1998 Indonesia menyadari bahwa salah satu respon pemerintah atau cara terbaik untuk memberikan melindungi masyarakat dari serangan krisis adalah dengan memperkuat pangan melalui undang-undang.

     

    Kebutuhan akan undang-undang

     

    FFI telah belajar bahwa produsen tepung cenderung tidak mau memperkuat produknya atas inisiatif sendiri, meskipun biaya prosesnya rendah. “Tidak ada nilai pemasarannya dari fortifikasi,” terang Greg Harvey, CEO InterFlour Group, satu dari produsen terbesar di Asia dan rekanan swasta dari FFI. “Untuk memastikan hal tersebut berjalan, fortifikasi itu harus bersifat wajib,” ujarnya.

     

    InterFlour adalah  satu contoh yang baik. Perusahaan tersebut mengoperasikan sebuah penggilingan di Indonesia di mana fortifikasi adalah wajib. “Saya merasa dalam jangka panjang hal ini merupakan praktek usaha yang baik untuk pasar – untuk perempuan dan anak-anak dalam memperoleh manfaat gizi yang maksimal dari produk kami,” kata Harvey.

     

    [end].

     

     


     

    Searchs :
    btn_contact
    btn_sitemap


  •  
  • Tentang UNICEF Indonesia    Sumber Informasi     Legal     Situs global UNICEF
    For every child
    Health, Education, Equality, Protection
    ADVANCE HUMANITY