logo_indonesia

  •   Cerita Sigit, 14 tahun dari Ngepung: Kembali ke sekolah.
      Delicious  Digg  Reddit    Stumbleupon  Twitter


    Sigit Wicaksono, 14 tahun, duduk di depan monitor komputer. Ia sedang mencoba-coba sebuah program komputer yang baru dikenalnya. Menguasai komputer merupakan pengalaman baru baginya. Tangannya yang biasa dipakai untuk pekerjaan kasar, sekarang harus mahir memegang keyboard dan mouse.


    © UNICEF Indonesia/Nettleton

    Sigit Wicaksono, 14, siswa kelas 6 SD, Nepung, Jawa Timur sedang belajar menggunakan komputer. Sebelumnya Sigit adalah pekerja anak penuh waktu  yang bekerja untuk mengangkut beton sepanjang hari.

    Sigit sekarang duduk di kelas 6 di sebuah sekolah di Ngepung, Jawa Timur. Umurnya 14 tahun. Ia lebih tua dibanding teman-teman sekelasnya. Ini dikarenakan ia sempat berhenti sekolah selama  3 tahun, untuk bekerja membiayai keluarganya. ”Saya berhenti sekolah karena tidak punya uang, dan saya membantu Ayah bekerja membawa batu.”

    Di Jawa Timur, banyak orangtua mengharapkan anak-anak mereka untuk bekerja dan membantu keluarga mereka. Sigit termasuk diantara anak-anak Indonesia yang putus sekolah. Sekitar 1,5 juta pekerja anak di Indonesia diperkirakan antara usia 10 dan 14, sebagian besar dari mereka keluar dari sekolah.


    © UNICEF Indonesia/Nettleton
    Anak-anak yang sedang beristirahat, Sekolah Dasar di Ngepung, Jawa Timur, Indonesia.

    Untuk membantu anak-anak kembali ke sekolah, UNICEF telah menyelenggarakan kampanye untuk meningkatkan kesadaran menggunakan siaran radio, spanduk dan pertemuan khusus untuk memberitahukan kepada masyarakat dan pemilik usaha tentang hak-hak anak. Sebagai bagian dari upaya ini, UNICEF menjalankan program Sekolah Ramah Anak-Komunitas Belajar untuk Anak-anak (CFS-LCC), program ini membantu untuk membangun lingkungan belajar yang lebih baik dan lebih inklusif bagi kaum muda.

    Salah satu aspek yang sangat penting dalam program CFS-LCC adalah bekerja dengan masyarakat lokal, yang berfokus pada pentingnya bagi semua anak-anak pergi ke sekolah tanpa memandang etnis, kemiskinan dan agama.

    Pelatihan CFS-LCC memberikan kepekaan kepada orangtua, masyarakat, guru dan kepala sekolah dengan kebutuhan individual anak. Jika Anda membawa anak ke sekolah yang mungkin telah menjadi buruh anak, kemungkinan besar ia memiliki usia yang lebih tua dibandingkan dengan teman-temannya sekelasnya. Guru perlu menyadari bahwa anak seperti itu membutuhkan dukungan khusus agar teman-teman sekelasnya dapat menerima dan merangkul anak itu.


    © UNICEF Indonesia/Nettleton
    Sehabis pulang sekolah dan di akhir pekan, Sigit memiliki waktu untuk membantu ayahnya bekerja untuk membuat kerajina pot bunga dari kayu.

    Pada akhirnya, masyarakat lokal yang membawa Sigit kembali ke sekolah. Ketika kepala sekolah dan kepala desa mendesaknya untuk membiarkan anak kembali ke sekolah, ayah Sigit setuju.

    "Saya bertanya kepada Sigit apakah dia ingin kembali ke sekolah atau tidak," kenang ayahnya. "Dia bilang ingin kembali. Jadi, saya hanya menyetujui dia untuk kembali bersekolah. Sang Ayah berkata, "saya akan kembali bekerja sendiri”.

    Sigit kembali ke kelas, tapi ia tetap terus bekerja untuk ayahnya setelah pulang sekolah dan pada akhir pekan. Sekarang, ia membantu ayahnya kerajinan pot bunga bukan mengangkut beton.

    "Saya masih belajar, tapi saya masih membantu pekerjaan ayah saya, karena saya ingin membantu ayah saya, keluarga saya dan saya sendiri. Tapi saya masih punya waktu untuk belajar dan bermain, "katanya. "Saya ingin meningkatkan prestasi saya."
     


     

    Searchs :
    btn_contact
    btn_sitemap


  •  
  • Tentang UNICEF Indonesia    Sumber Informasi     Legal     Situs global UNICEF
    For every child
    Health, Education, Equality, Protection
    ADVANCE HUMANITY